Penasaran Mengapa Dolar Naik dan Rupiah Melemah Serta Akibatnya Untuk Perekonomian Indonesia?

Dollar-naik

Pergerakan kurs dolar yang terus naik belakangan ini pastinya sering membuat kita penasaran, mengapa bisa terus naik, hal apa saja yang mempengaruhi naik turunnya nilai mata uang, hingga bagaimana membuat rupiah stabil. Kalau di awal tahun 2019 lalu nilai tukar dolar terhadap rupiah berkisar Rp 13.800, sedangkan per hari ini, Selasa, 8 Oktober 2019, nilai tukar dolar terhadap rupiah berada di level Rp 14.157, yang berarti mengalami penurunan.

Mengapa disebut menurun? Jika berbicara tentang mata uang suatu negara, pasti perbandingannya adalah mata uang tersebut dengan mata uang negara lain. Biasanya yang jadi patokan adalah mata uang Dolar Amerika Serikat atau US Dollar (USD). Jadi saat nilai Rupiah 14 Ribuan, artinya adalah 1 USD = Rp14.000-an. Artinya dengan uang Rp. 14.000 bisa ditukarkan dengan 1 USD. Sedangkan pada awal tahun 2019, dengan Rp 13.000 Ribuan saja bisa ditukar dengan 1 USD. Hal inilah yang membuat nilai mata uang Rupiah disebut menurun atau “melemah”, dalam bahasa ekonomi disebut “depresiasi”.

Lantas Mengapa Dolar Naik?

Ada banyak hal yang mempengaruhi pergerakan nilai Dollar setiap harinya, antara lain adalah:

  • Bank sentral Amerika, Federal Reserve, berencana menaikkan suku bunga acuan. Federal Reserve itu seperti Bank Indonesia-nya Amerika. Karena suku bunga dolar naik, imbal hasil surat utang dolar juga otomatis naik. Maka banyak investor di bursa efek mengalihkan dana investasinya ke Amerika.
  • Permintaan dolar pada semester II tiap tahun umumnya naik karena ada pembagian dividen emiten. Karena sebagian besar investor di bursa efek dari asing, mereka mengalihkan dividen itu ke mata uang dolar AS.
  • Importir lebih banyak memegang dolar AS untuk kegiatan bisnis. Dolar juga banyak dibeli perusahaan untuk membayar utang bermata uang dolar karena takut nilai dolar makin naik. Jika dolar lebih kuat, utang jadi lebih besar.
  • Impor barang konsumsi naik menjelang Lebaran, sehingga defisit transaksi berjalan ikut naik.
  • Pertumbuhan ekonomi belum mencapai target.

Dampak Dolar Naik Untuk Indonesia

Ada beberapa dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat akibat dari dolar yang terus naik. Harga kebutuhan yang komponennya impor pasti akan melonjak mahal karena transaksinya menggunakan mata uang dolar AS. Industri yang paling terkena dampaknya adalah industri elektronik, fashion, tekstil, besi baja, farmasi, hingga ternak. Bahan bakar minyak juga merangkak naik harganya karena Indonesia masih mengimpor minyak mentah untuk memenuhi 50% kebutuhan minyak nasional. Kenaikan harga sejumlah barang tersebut pun berpotensi mendorong inflasi.

Kenaikan dolar AS juga berdampak pada utang negara yang membesar dari asumsi APBN. Utang negara Indonesia sebagian besar berbentuk dolar AS, sehingga dengan melonjaknya nilai mata uang tersebut, jumlah utang Indonesia pun otomatis lebih besar dari prediksi sebelumnya. Dalam APBN tahun 2018, pemerintah mengasumsikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 13.400 per dolar AS. Akibatnya, perkiraan keuangan negara pun banyak yang meleset.

Beberapa pihak justru ada yang akan diuntungkan dengan nilai dolar naik ini, misalnya saja eksportir yang target pasarnya adalah konsumen luar negeri. Meskipun mereka menjual barang dengan harga yang sama, selisih dolar terhadap rupiah bisa menjadi keuntungan. Melemahnya daya konsumsi impor juga bisa membuat barang lokal berjaya di negara sendiri. Tak hanya itu, sektor pariwisata juga akan mendulang untung. Biaya hidup yang relatif lebih “murah” di Indonesia, akan mendatangkan turis-turis dari mancanegara.

Apakah yang Harus Dilakukan Masyarakat Indonesia?

Tak perlu panik untuk menyikapi kenaikan nilai dolar AS, karena masih banyak hal yang bisa dilakukan dalam kondisi seperti ini. Bagi kamu yang gemar belanja produk impor, disarankan untuk menguranginya dan beralih dengan produk lokal. Bagi pelaku UMKM yang mengandalkan bahan baku impor, disarankan untuk mencari opsi bahan baku lain untuk menekan produksi. Jika kamu mau berinvestasi, sebaiknya investasi di instrumen yang tak begitu terdampak dengan kenaikan dolar, misalnya investasi emas atau surat utang negara.

Baca juga: Bagaimana Cara Mempersiapkan Tabungan Pendidikan Anak?

Close Menu