Mengenal Fast Fashion dan Sustainable Fashion di Industri Mode

Fast-Fashion

Pernahkan kamu berfikir bagaimana pakaian yang kamu gunakan bisa dibuat? Apa saja bahan baku yang dibutuhkan? Atau berapa lama proses pembuatannya? Jadi, sebenarnya pakaian tersebut telah melewati berbagai proses panjang, sebelum sampai di display toko dan dibeli oleh konsumen. Industri pakaian ready-to-wear dunia kini didominasi oleh bisnis berkonsep Fast Fashion dan Sustainable Fashion.

Apa yang Dimaksud dengan Fast Fashion?

Fast Fashion adalah konsep pergantian mode yang cepat dalam kurun waktu tertentu untuk pakaian ready-to-wear. Contohnya, saat musim panas trend mode akan menyesuaikan dengan desain dan bahan untuk musim panas, kemudian saat musim dingin akan berganti lagi. Bahkan, karena sesuai dengan labelnya, mode ini tidak hanya berganti sesuai musim tapi setiap bulan. Beberapa tahun lalu, konsep ini menjadi trend dan dianggap inovatif untuk memenuhi kebutuhan dunia pakaian yang meningkat. Atas tuntutan pasar, banyak yang harus dikorbankan, mulai dari kerusakan alam, pekerja yang dibayar di bawah rata-rata, jam kerja yang berlebihan, keselamatan kerja yang kurang layak, dan berbagia permasalahan lainnya.

Fast Fashion dan Gaya Hidup Konsumtif

Sustainable-Fashion

Siapa yang tidak mau tampil gaya dengan harga murah? Tentunya banyak yang tergiur untuk hal ini. Padahal dengan harga murah yang ditawarkan dan kualitas yang rendah, Fast Fashion malah mendukung gaya hidup konsumtif. Harganya yang murah, membuat orang tertarik untuk berbelanja setiap ada koleksi baru yang dijual, plus ditambah lagi untuk kebutuhan gengsi dan gaya. Fokus dari bisnis ini adalah bagaimana menghasilkan barang dengan biaya serendah mungkin demi memenuhi permintaan konsumen yang berubah dengan cepat dan harga terjangkau. Triknya adalah dengan membuat kuantitas yang terbatas, kemudian memanfaatkan respon psikologis manusia yang tertarik dengan barang-barang edisi terbatas. Inilah yang membuatnya memiliki omset tinggi dan digandrungi oleh konsumen.

Baca juga: Ikigai: Sebuah Konsep Untuk Lebih Mencintai Hidup dan Pekerjaan

Sustainable Fashion Untuk Industri Mode yang Lebih Ramah Lingkungan

Sustainable-Fashion

Selain industri mode yang berganti capet, berkembang juga industri yang mengusung Slow Fashion yang diperkenalkan oleh Kate Fletcher pada tahun 2007. Merupakan sebuah filosofi yang didasarkan atas pemakaian pakaian yang lebih lama, ketahanan dan kualitas tinggi, produksi beretika, dan ramah lingkungan. Konsep ini mengedepankan kualitas ketimbang kuantitas dan berkomitmen menciptakan praktik kerja yang sehat terhadap pekerjanya.

Kemudian di tahun 2017, terdapat suatu kesepakatan pada Copenhagen Fashion Summit yang mengajak seluruh merek brand dan retailer ternama untuk mengubah sistemnya menjadi Circular Fashion System atau Sustainable Fashion. Jadi, Sustainable Fashion berkonsep sustainable alias berkelanjutan, dimana dalam produksi pakaian menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Brand juga bertanggung jawab untuk mengedukasi konsumen tentang cara meningkatkan masa pakai suatu produk dan informasi lengkap soal bahan atau material pakaian yang dibeli.

Per Juni 2017, setidaknya ada 64 perusahaan yang bergabung dengan program 2020 Circular Fashion System Commitment. Seperti Zara, H&M, Topshop, Adidas, ASOS, Guess, Hugo Boss, Lacoste, M&S, Tommy Hilfiger, dan masih banyak lainnya.

Sustainable Fashion memberikan keuntungan simbiosis mutualisme antara desainer, pekerja, perajin, konsumen, hingga industri mode secara keseluruhan. Untuk para pecinta mode, yuk mulai untuk menerapkan konsep sustainable fashion. Mulailah untuk mengubah perilaku konsumtif dengan memilih pakaian yang timeless sehingga tidak perlu membeli pakaian setiap berganti trend. Jadilah smart shopper dengan memilih material produk yang mudah terurai dan ramah lingkungan sehingga tak ada lagi pakaian yang terbuang dan kemudian menjadi sampah.

 

Baca juga: Kenalan dengan Kakeibo, Cara Mengatur Keuangan Ala Jepang!

Close Menu