5 Pilihan Investasi Syariah yang Halal dan Menguntungkan

investasi syariah

Investasi memiliki tujuan untuk memperoleh return atau keuntungan di masa akan datang. Saat ini telah banyak alternatif untuk berinvestasi secara syariah yang halal dan tetap menguntungkan. Pengertian investasi syariah adalah investasi yang didasarkan prinsip-prinsip Islam atau tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam, seperti riba, alkohol, judi, rokok dan pornografi dipastikan tidak akan menjadi sumber keuntungan.

Beberapa keuntungan investasi syariah adalah:

Sesuai dengan syariat Islam

Keuntungan utama dari investasi syariah adalah sistemnya yang mengacu pada hukum agama islam, yaitu Al-Quran dan hadits. Sehingga dalam pelaksanaan investasi akan memberikan hasil yang halal, dikerjakan dengan cara halal, dan digunakan dengan cara yang halal juga.

Bebas riba

Sebagian besar umat muslim takut melakukan investasi karena terdapat riba di dalamnya. Nah, Investasi Syariah menjadi solusi bagi umat islam untuk melakukan investasi yang bebas riba.

Lebih aman

Setiap jenis investasi syariah harus menjauhi gharar atau pemberian informasi yang kurang lengkap. Sehingga dijamin lebih aman dan terpercaya. Investasi syariah juga menjauhi hal-hal yang bersifat maysir atau segala bentuk transaksi yang mengandung unsur taruhan dan akadnya belum jelas.

Memiliki aturan perundangan

Investasi syariah memiliki dasar hukum yang jelas yaitu tercantum dalam UU nomor 21 tahun 2008 mengenai perbankan syariah. Dalam praktiknya, penyelenggaraan investasi mendapatkan pengawasan secara langsung oleh Dewan Syariah Nasional MUI.

Pilihan investasi syariah yang menguntungkan dan halal:

investasi syariah adalah

1. Investasi Saham Syariah

Pada dasarnya investasi saham syariah sama dengan saham konvensional, perbedaannya adalah saham syariah mengharuskan perusahaan penerbit saham memiliki prinsip syariah dan kegiatan operasionalnya tidak melanggar prinsip Syariah. Prinsip-prinsip syariah yang dimaksud di sini telah disepakati OJK bersama MUI. Dari kesepakatan tersebut, lahirlah Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No. KEP-208/BL/2012 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah.

Kriteria investasi saham syariah:

Emiten tidak melakukan kegiatan usaha sebagai berikut:

  1. Perjudian dan permainan yang tergolong judi;
  2. Perdagangan yang dilarang menurut syariah, antara lain:
  • Perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa;
  • Perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu;
  1. Jasa keuangan ribawi, antara lain:
  • Bank berbasis bunga;
  • Perusahaan pembiayaan berbasis bunga;
  1. Jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional;
  2. Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan, dan/atau menyediakan antara lain:
  • Barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi);
  • Barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram lighairihi) yang ditetapkan oleh DSN MUI;
  • Barang atau jasa yang merusak moral dan/atau bersifat mudarat;
  1. melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah); dan

Emiten memenuhi rasio-rasio keuangan sebagai berikut:

  1. Total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak lebih dari 45% (empat puluh lima per seratus); atau
  2. Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10% (sepuluh per seratus);

2. Investasi Reksadana Syariah

Investasi reksadana syariah adalah wadah untuk menghimpun dana masyarakat yang dikelola oleh Manajer Investasi, untuk kemudian diinvestasikan ke dalam surat berharga, seperti: saham, obligasi, dan instrumen pasar uang yang sesuai dengan ketentuan dan prinsip syariah Islam. Investasi reksadana syariah dikeluarkan langsung oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) melalui Daftar Efek Syariah (DES). Dalam DES ini dicantumkan nama dan jenis perusahaan yang telah dan bisa memperjualbelikan reksadana syariah, dengan demikian pemasukan yang akan diterima pemilik modal tentu bisa dipertanggungjawabkan kehalalannya karena perusahaan yang tercantum telah melalui verifikasi dari DPS.

Salah satu yang unik dari investasi reksadana Syariah adalah adanya proses cleansing yang merupakan proses pembersihan dari hal-hal yang dapat mengganggu status kehalalan dari uang yang didapat selama proses investasi berlangsung. Oleh karena itu di sini fungsi DPS berperan. Dari proses cleansing ini, sebagian besar uang tidak langsung masuk kepada pemilik modal tetapi akan diarahkan pada hal-hal yang bersifat amal.

Baca juga: Surat Utang Negara, Investasi Sekaligus Ikut Membangun Negara

3. Deposito Syariah 

Deposito syariah adalah produk simpanan berjangka yang dikelola berdasarkan prinsip syariah yang ditujukan bagi nasabah perorangan dan perusahaan, dengan menggunakan prinsip mudharabah. Perbedaan antara deposito syariah dengan deposito konvensional terletak pada cara pengelolaannya yang menggunakan akad Syariah, dimana akan ada nisbah atau bagi hasil sebagai keuntungan yang didapatkan oleh nasabah.

Dalam deposito syariah, nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain.

4. Sukuk Ritel

Sukuk Ritel adalah surat berharga berbasis syariah yang diterbitkan oleh Negara Republik Indonesia. Instrumen ini memberikan bunga, disebut kupon, yang jumlahnya tetap dan dibayarkan tiap bulan kepada pembelinya. Imbal bagi hasil dari sukuk ritel ini lebih besar daripada bunga deposito dan dijamin langsung oleh pemerintah sehingga risiko relatif lebih rendah.  Pajak atas imbalan bagi hasil sukuk ritel persentasenya 15%, relatif lebih rendah dibandingkan terhadap bunga deposito yaitu 20%. Untuk mendapatkan hasil investasi yang maksimal lebih baik sukuk ritel dipegang sampai jatuh tempo. Jika dilepas sebelum waktunya, keuntungan mungkin belum seberapa, ditambah kamu harus membayar pajak dan biaya transaksi.

5. Emas

Investasi emas telah menjadi primadona sejak jaman dulu karena relatif aman dengan harga yang selalu naik setiap tahun. Investasi jenis ini tergolong halal dengan sejumlah syarat, diantaranya tidak menggunakan skema berbahaya seperti ponzi dan emas yang diinvestasikan benar-benar ada. Terlebih saat ini untuk investasi emas bisa lebih mudah dengan sistem online atau dikenal dengan toko emas digital sehingga bisa dilakukan dimana saja, plus investasi emas bisa dilakukan dengan sistem cicilan. Jadi, kamu bisa mulai investasi dengan nominal kecil kemudian terus mengembangkannya.

Beberapa pilihan investasi syariah ini sangat tepat sebagai pilihan untuk kamu yang ingin melakukan investasi dengan imbal balik halal, menguntungkan, dan tanpa riba. Pada prinsipnya, Islam memperbolehkan investasi dengan mengikuti syariat Islam, serta mengharuskan pemodal dan penerima modal untuk menerapkan prinsip bagi hasil dan bagi rugi. Artinya, tidak ada pihak yang dirugikan dalam sistem investasi ini.

Baca juga: Investasi Emas Tawarkan Risiko Rendah dengan Nilai yang Cenderung Meningkat, Tertarik?

Close Menu