Ikut Restrukturisasi Kartu Kredit Akibat Corona, Untung atau Rugi?

Restrukturisasi-Kartu-Kredit

Akibat pandemik Covid-19 ini keadaaan ekonomi dunia tengah melemah sehingga ada beberapa kebijakan yang memberikan keringanan kepada masyarakat. Salah satunya adalah keringanan bagi pengguna kartu kredit, dimana Bank Indonesia mengumumkan memberikan pelonggaran bagi pengguna kartu kredit atau credit card (CC) berupa penurunan suku bunga jadi 2% per Mei 2020. Kemudian penurunan untuk minimum payment menjadi 5%, hingga pilihan terakhir untuk memperpanjang tenor pembayaran atau restrukturisasi kartu kredit.

Kebijakan restrukturisasi ini sebelumnya juga diizinkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pengawas industri keuangan. Restrukturisasi kartu kredit ini akan memberikan keringanan cicilan bagi nasabah dan membuat kredit menjadi tetap lancar bagi industri keuangan. Saat ini OJK telah memberi izin restrukturisasi untuk bank dan perusahaan multifinance. Tercatat untuk bank milik negara, permohonan restrukturisasi kredit telah diajukan oleh puluh ribuan nasabah dan jumlahnya terus bertambah setiap harinya.

Sebelum kamu mengajukan restrukturisasi kartu kredit, ataupun restrukturisasi kredit lainnya ada beberapa hal yang harus diketahui dan dipertimbangkan dampak untung dan ruginya.

Beberapa hal yang harus diketahui sebelum restrukturisasi kredit:

Keringanan-kredit

1. Keringanan cicilan melalui restrukturisasi kredit tidak menghapus kewajiban

Keringan kredit melalui restrukturisasi dilakukan dalam beberapa bentuk seperti memperpanjang tenor kredit atau waktu pinjaman, penerapan grace periode, pengurangan suku bunga, pengurangan tunggakan pokok (cut loss), pengurangan tunggakan bunga, penambahan fasilitas kredit serta konversi utang menjadi saham. Namun untuk hutang atau kewajiban yang ada tetap harus dibayarkan.

2. Restrukturisasi membuat cicilan mengecil

Adanya pandemik ini membuat banyak orang mengalami penurunan pendapatan yang kemudian mempengaruhi cash flow, hingga banyak hutang atau cicilan yang tidak dapat dibayarkan. Program keringanan ini akan mendesain skema pembayaran cicilan menyesuaikan dengan kemampuan. Jika dijumlahkan dengan perpanjangan waktu, sebenarnya nasabah terhitung membayar lebih mahal jika bank tidak mengurangi suku bunga dalam perjanjian restrukturisasi. Sejumlah restrukturisasi menggunakan pola anuitas sehingga pokok dan bunga kembali ke model awal kredit baru dicairkan. Pokok utang menjadi lebih kecil pemotongannya akibat restrukturisasi.

Baca juga: Ada Kebutuhan Mendesak, Pilih Tarik Tunai Kartu Kredit atau Pinjaman Online?

3. Perjanjian dapat dipulihkan kembali seperti sebelum restrukturisasi

Restrukturisasi kredit memberi keringanan untuk nasabah untuk menata kembali keuangannya karena melambatnya perekonomian. Setelah kondisi pulih, maka program restrukturisasi dapat diakhiri dengan meminta kembali ke perjanjian awal. Namun walaupun kembali ke perjanjian awal, pokok utang akan mengacu kepada jumlah terakhir restrukturisasi. Saat ini sebagian besar bank menerapkan skema anuitas dalam pembayaran angsuran, dampaknya pokok utang akan kembali besar dan bank mendahulukan pendapatan bunga.

4. Sebaiknya lanjutkan kredit secara normal

Kondisi perekonomian yang tertekan membuat sebagian besar usaha terhambat, sehingga restrukturisasi menjadi salah satu solusi untuk ekonomi tetap bergerak. Meski begitu, apabila masih memungkinkan untuk membayar normal, sebaiknya nasabah melanjutkan cicilan dengan normal menggunakan fasilitas alternative, seperti menggunakan tabungan atau meminta bantuan kepada keluarga.  Namun jika tidak memungkinkan restrukturisasi adalah jalan yang tidak salah untuk dipilih.

Apa yang bisa didapatkan dari restrukturisasi kartu kredit?

Penurunan suku bunga kartu kredit

Bank penerbit kartu kredit telah menyiapkan program keringanan dalam bentuk mengubah outstanding tagihan kartu kredit menjadi cicilan tetap dengan beberapa pilihan tenor hingga 18 bulan, dengan bunga ringan. Rata-rata restrukturisasi kartu kredit yang disetujui memiliki outstanding tagihannya senilai Rp10 juta ke atas. Namun, sebenarnya pemberian restrukturisasi ini tidak dibatasi berdasarkan limit. 

Pelonggaran tersebut yakni penurunan batas maksimum suku bunga yang sebelumnya 2,5% per bulan menjadi 2% per bulan, penurunan sementara nilai pembayaran minimum yang sebelumnya 10% menjadi 5%, penurunan sementara besaran denda keterlambatan bayar dari 3% atau maksimal Rp150.000 menjadi 1% atau maksimal Rp100.000.

Saat ini transaksi kartu kredit cenderung tumbuh flat secara tahunan karena kegiatan travel yang menurun. Namun, penggunaan transaksi kartu kredit saat ini masih tetap ada dengan aktivitas belanja online dari rumah.

Baca juga: Tidak Bisa Bayar Cicilan Kredit Saat Covid, Bisa Dapat Keringanan?

Close Menu